Setelah obligasi, BWPT milik Peter Sondakh terbitkan suku Rp290 miliar

Rabu, 24 Desember 2025

image

JAKARTA – PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) akan menerbitkan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Tahap II Tahun 2025 senilai Rp290 miliar akhir Desember 2025.

Sukuk mudharabah ini merupakan bagian dari Penawaran Umum Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I yang menargetkan total dana Rp475 miliar. Sebelumnya, BWPT juga telah menerbitkan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2025 senilai Rp62,18 miliar.

BWPT akan menyanggupi secara penuh (full commitment) sukuk mudharabah ini sebesar Rp267,1 miliar rupiah, yang akan ditawarkan dalam dua seri:

  • Seri A senilai Rp165,7 miliar dengan indikasi bagi hasil ekuivalen 9,75% per tahun dan tenor 370 hari, serta
  • Seri B senilai Rp101,38 miliar dengan indikasi bagi hasil ekuivalen 11% dan tenor 3 tahun.

Sisa Rp22,93 miliar akan dijamin dengan kesanggupan terbaik (best effort).

Bagi hasil akan dibayarkan tiap 3 bulan, dimulai pada 6 April 2025 mendatang.

Dari total dana Rp290 miliar yang akan diterima BWPT, Perseroan akan mengalokasikan Rp100 miliar untuk refinancing pinjaman sebagian pokok utang yang telah digunakan untuk modal kerja BWPT.

“Sisanya akan digunakan untuk modal kerja Perseroan,” ujar manajemen dalam prospektus sukuk, Rabu (24/12).

Modal kerja tersebut mencakup pembelian tandan buah segar dan minyak kelapa sawit, biaya pemeliharaan tanaman menghasilkan seperti pupuk, energi dan bahan bakar, serta biaya overhead.

BWPT akan mulai menawarkan sukuk mudharabah ini pada 24–30 Desember 2025, dan dicatatkan pada 7 Januari 2026 mendatang.

Jadwal ini bersinggungan dengan jadwal penawaran umum Obligasi Berkelanjutan I Tahap III Tahun 2025 senilai Rp210 miliar, yang akan mulai ditawarkan pada 22-30 Desember 2025 mendatang. Sehingga, total dana yang akan diraup BWPT mencapai Rp500 miliar.

Sebagai catatan, BWPT memiliki 24 anak usaha perkebunan kelapa sawit dengan total luas area 87 ribu hektar, 7 unit pabrik pengolahan dengan total kapasitas 2,4 juta ton, 4 unit bulking, dan tangi penyimpanan CPO 94 ribu ton.

Selain itu, BWPT juga memanfaatkan limbah pabrik kelapa sawit atau produk turunannya sebagai sumber energi terbarukan, termasuk biodiesel.

Hingga akhir September 2025, BWPT mencatatkan total aset Rp9,41 triliun, dengan liabilitas Rp6,68 triliun dan ekuitas Rp2,73 triliun. (ZH)