Nilai investasi naik, DEWA catat laba melesat 89% meski tertekan RKAB
Senin, 10 Agustus 2026
JAKARTA – PT Darma Henwa Tbk (DEWA), emiten jasa pertambangan dan tambang yang terafiliasi dengan Grup Bakrie, membukukan laba bersih melonjak hingga 89% secara tahunan menjadi Rp354,3 miliar pada akhir Juni 2026.
Namun, peningkatan kinerja tersebut utamanya lebih banyak didorong oleh nilai wajar investasi alih-alih pendapatan.
Mengacu pada laporan keuangan Perseroan, faktor yang paling berpengaruh dalam pertumbuhan laba adalah keuntungan dari penyesuaian nilai wajar investasi yang tidak diungkap DEWA, yang menyumbang Rp229,37 miliar pada kinerja laba Perseroan.
Padahal, DEWA mencatatkan pendapatan naik hanya 3,1% menjadi Rp3,21 triliun pada Januari-Juni 2026.
Peningkatan operasional, terutama volume waste removal, juga lebih banyak didorong oleh kegiatan operasi internal (in-house), sementara volume waste removal subkontaktor turun hingga 44,9%.
Selain itu, volume produksi batu bara Perseroan juga merosot 1,6% sebagai dampak dari penurunan volume produksi batubara dari subkontraktor usai pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) batu bara dari pemerintah.
“Di tengah tantangan pemotongan volume RKAB 2026 yang berdampak negatif ke sektor batubara, Perseroan mampu mencatat kenaikan pertumbuhan laba yang signifikan di 6M26,” tegas Direktur DEWA Ricardo Silaen, CFA, dalam siaran resmi yang diterima IDNFinancials.
Margin laba kotor dan EBITDA DEWA memang turut meningkat menjadi 19,1% dan 29,3% pada akhir semester I 2026 ini.
Everson Sugianto, Investment Analyst Stockbit Sekuritas, menyebutkan bahwa revisi kuota RKAB ini juga menjadi salah satu faktor yang menentukan prospek kinerja DEWA pada semester II 2026.
Ia menyebutkan bahwa laba bersih DEWA berpotensi melesat pada paruh kedua 2026 seiring dengan “porsi pengerjaan internal yang akan mencapai 100%” dan kontrak terbaru, PT Sebuku Sejaka Coal.
Namun, tantangan RKAB tersebut diproyeksi masih membayangi kinerja proyek Sebuku Sejaka Coal, yang memiliki estimasi volume overburden hingga 55 juta BCM dan produksi batu bara hingga 5 juta ton per tahun.
Pasalnya, Ricardo mengaku bahwa RKAB proyek tersebut belum maksimal, dengan kuota hanya 1,4 juta ton batu bara.
“Jadi, untuk tahun ini, tambahan volume mungkin sekitar 10 BCM … kalau tahun depan, tergantung RKAB, bisa di-push sekitar 7 BCM,” ujarnya dalam paparan terpisah di Emiten Corner Reliance Sekuritas, Jumat (30/7). (ZH)