Siapa Carina Hong, usia 24 jebolan MIT yang bangun Axiom Math
Kamis, 25 Desember 2025

JAKARTA - Di usia 24 tahun, Carina Hong menjelma menjadi salah satu figur paling menjanjikan di lanskap kecerdasan buatan global. Matematikawan kelahiran Guangzhou, China, ini memilih keluar dari program Ph.D. Stanford untuk membangun Axiom Math, startup AI yang menargetkan persoalan paling fundamental dalam sains, matematika tingkat lanjut.
Dikutip vnexpress.net, didirikan pada Maret lalu, Axiom Math langsung mencuri perhatian industri setelah mengamankan pendanaan awal US$64 juta pada September. Dalam waktu singkat, Hong membentuk tim berisi 17 peneliti elite yang direkrut dari Meta FAIR, tim GenAI Meta, hingga Google Brain–DeepMind. Fokus Axiom jelas dan ambisius: menjadikan matematika sebagai fondasi menuju superintelligence.
“Matematika adalah sandbox yang sempurna untuk membangun superintelligence,” kata Hong kepada Forbes.
Ketertarikan Hong pada matematika tumbuh sejak kecil. Ia belajar bahasa Inggris secara mandiri demi mengakses literatur matematika tingkat lanjut. Saat SMA, Hong merupakan satu dari sedikit siswi perempuan di tim Olimpiade Matematika provinsinya dan menorehkan prestasi di berbagai kompetisi nasional. Namun, yang membedakan Hong bukan sekadar prestasi kompetisi, melainkan ketertarikannya pada riset murni.
“Saya selalu sangat tertarik pada penemuan matematika,” ujarnya kepada The Wall Street Journal. “Matematika olimpiade itu seperti suntikan dopamin terus-menerus, sementara riset matematika seperti membenturkan kepala ke tembok penuh rasa sakit dan penderitaan. Saya justru menyukai bagian itu.”
Bakat tersebut membawanya ke MIT, tempat ia menulis sembilan makalah riset dan menyabet Frank and Brennie Morgan Prize pada 2023. Ia kemudian menjadi Rhodes Scholar di Oxford dan melanjutkan studi ke Stanford, sebelum akhirnya mengambil keputusan besar untuk keluar dan membangun perusahaan.
Gagasan Axiom berawal dari diskusi informal di kedai kopi dekat kampus Stanford, tempat Hong bertemu Shubho Sengupta, peneliti AI Meta yang kemudian menjadi anggota pertama tim Axiom. Pertemuan itu berkembang menjadi visi bersama untuk membangun AI yang bukan hanya menyelesaikan soal matematika, tetapi juga menemukan pengetahuan baru.
Nama Axiom dipilih sebagai symbol, kebenaran dasar yang menjadi fondasi seluruh teori. Target perusahaan ini adalah menciptakan “AI matematikawan” sistem yang mampu menyelesaikan persoalan kompleks, menghasilkan bukti formal, dan memverifikasi kebenarannya secara mandiri. “Kami tidak membangun chatbot lain yang meniru solusi,” kata Hong.
“Kami mengajarkan AI untuk membuktikan teorema. Itu tantangan yang sangat berbeda dan layak dikejar.” Dalam waktu singkat, Axiom menarik nama-nama besar, termasuk Francois Charton dan Aram Markosyan, serta matematikawan ternama Ken Ono, mantan mentor Hong. Ono menegaskan keputusannya bergabung bukan karena insentif finansial.
“Saya tidak melakukan ini demi uang,” ujarnya, seraya menyebut ketertarikannya pada tantangan intelektual yang ditawarkan Axiom.
Ono bertugas merancang masalah matematika ekstrem dan tolok ukur untuk menguji kemampuan AI Axiom. “Anggap saja seperti peta bagi pelaut,” katanya. “Sebelum berlayar menemukan daratan baru, Anda harus tahu di mana posisi Anda dan apa saja yang sudah dijelajahi.”
Hong menegaskan bahwa aplikasi Axiom melampaui dunia akademik, mencakup bidang yang membutuhkan penalaran yang dapat dibuktikan kebenarannya, seperti verifikasi perangkat keras dan perangkat lunak, kriptografi, hingga keuangan kuantitatif.
“Salah satu hal yang saya dengar dari para peneliti dan matematikawan terbaik yang saya rekrut adalah bahwa memecahkan superintelligence matematika akan menjadi warisan mereka,” kata Hong.“Ketika masalahnya cukup sulit, kepadatan talenta menjadi sangat tinggi, dan itu membuat Anda menjadi magnet bagi para pemikir hebat lainnya.”(DH)