CEO DeepMind Demis Hassabis debat mantan ilmuwan AI Meta Yann LeCun

Kamis, 25 Desember 2025

image

JAKARTA - Perdebatan mengenai masa depan kecerdasan buatan (AI) kembali mencuat di antara tokoh-tokoh paling berpengaruh di dunia teknologi.

Kali ini, perbedaan pandangan muncul antara mantan ilmuwan Meta AI Yann LeCun dan CEO Google DeepMind sekaligus peraih Nobel, Demis Hassabis.

Dikutip timesofindia, dalam sebuah podcast terbaru, LeCun menyatakan bahwa kecerdasan umum (general intelligence) sejatinya tidak ada, bahkan pada manusia.

Menurutnya, kecerdasan manusia sangat terspesialisasi untuk dunia fisik, dan apa yang selama ini dianggap sebagai kecerdasan umum hanyalah ilusi.

“Kita hanya tampak umum karena kita tidak dapat membayangkan masalah-masalah yang tidak kita sadari,” ujar LeCun.

Ia juga mempertanyakan konsep kecerdasan umum yang selama ini menjadi tujuan pengembangan AI.

Cuplikan pernyataan tersebut dibagikan di platform X (sebelumnya Twitter) dan dengan cepat menarik perhatian Demis Hassabis, yang secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya. Menanggapi klip itu, Hassabis menyebut pandangan LeCun sebagai keliru.

Ia menulis, “Yann benar-benar salah di sini, dia mencampuradukkan kecerdasan umum dengan kecerdasan universal.”

Dalam penjelasannya, Hassabis menekankan bahwa otak manusia bersifat sangat umum, meski tetap memiliki keterbatasan. “Otak adalah fenomena paling indah dan paling kompleks yang kita ketahui di alam semesta (sejauh ini), dan pada kenyataannya bersifat sangat umum,” tulisnya.

Ia mengakui adanya keterbatasan sistem pembelajaran, merujuk pada prinsip teorema tidak ada makan siang gratis. “Jelas, seseorang tidak dapat menghindari no free lunch theorem, sehingga dalam sistem yang praktis dan terbatas selalu harus ada tingkat spesialisasi tertentu terhadap distribusi target yang ingin dipelajari.”

Namun, menurut Hassabis, keumuman kecerdasan tetap ada secara teoritis. Ia menjelaskan bahwa dalam kerangka Mesin Turing, sebuah sistem umum mampu mempelajari apa pun yang dapat dihitung jika memiliki cukup waktu, memori, dan data.

“Arsitektur dari sistem umum semacam itu mampu mempelajari apa pun yang dapat dihitung (computable) dan otak manusia (serta seluruh model fondasi AI) merupakan perkiraan dari Mesin Turing.”

Hassabis juga menanggapi komentar LeCun terkait catur dan keterbatasan manusia. Ia menilai justru luar biasa bahwa manusia mampu menciptakan catur dan mencapai tingkat permainan setinggi Magnus Carlsen, meski memiliki keterbatasan biologis.

“Ia mungkin tidak sepenuhnya optimal  tetapi luar biasa apa yang dapat ia dan kita lakukan dengan otak kita, mengingat otak tersebut berevolusi untuk kehidupan berburu dan meramu.”

Perbedaan pandangan antara dua tokoh besar AI ini mencerminkan perdebatan mendasar tentang arah pengembangan kecerdasan buatan apakah AI benar-benar dapat mencapai kecerdasan umum seperti manusia, atau justru akan tetap terspesialisasi sesuai tugas tertentu.

Debat ini diperkirakan akan terus memengaruhi diskursus global tentang masa depan AI.(DH)