CEO Norges Bank: SWF Norwegia US$2 triliun tetap bisa lenyap
Rabu, 12 Agustus 2026
JAKARTA - CEO Norges Bank Investment Management (NBIM), Nicolai Tangen, mengingatkan bahwa dana kekayaan negara Norwegia senilai US$2 triliun tetap bisa mengalami kerugian besar, bahkan berpotensi hilang seluruhnya jika terjadi kehancuran pasar.
[[ NBIM adalah bank yang mengelola sovereign wealth fund (SWF) Norwegia yaitu Government Pension Fund Global (GPFG), yang sering disebut Norway Oil Fund. ]]
Pernyataan tersebut disampaikan Tangen dalam pidatonya pada Selasa (11/8) di sebuah konferensi politik di Arendal, Norwegia.
Seperti dikutip Reuters, dana kekayaan negara Norwegia merupakan yang terbesar di dunia. Dana tersebut menginvestasikan hasil produksi minyak dan gas Norwegia ke berbagai aset di luar negeri, termasuk saham, obligasi, properti, dan proyek energi terbarukan.
Nilai dana tersebut telah meningkat dua kali lipat dalam waktu kurang dari satu dekade. Dari sekitar US$1 triliun pada 2017, nilainya kini mencapai sekitar US$2 triliun. Dana tersebut juga menyumbang sekitar seperempat belanja publik Norwegia, naik dari sekitar 10% satu dekade lalu.
"Saya ingin berkontribusi pada kesiapsiagaan darurat mental kita dengan mengajukan pertanyaan: 'bisakah dana minyak menghilang?'," kata Tangen dalam pidatonya.
"Jawaban atas pertanyaan itu adalah 'ya' dan yang terburuk adalah bahwa di dunia tempat kita hidup sekarang, hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil."
Menurut Tangen, tiga dekade terakhir ditandai kondisi yang "abnormal", dengan tingkat pajak, inflasi, dan suku bunga yang rendah.
"Izinkan saya berhenti sejenak pada kata 'tidak wajar' ini, karena justru pada periode saat inilah dana minyak tersebut mengalami pertumbuhan," ujarnya.
Pasar Saat Ini Mirip Era 1920-an
Dalam wawancara dengan Reuters, Tangen tidak menunjuk perkembangan pasar tertentu yang menjadi sumber kekhawatiran utamanya. Namun, ia menyoroti sejumlah kondisi yang memiliki kemiripan dengan periode menjelang Depresi Besar 1929, salah satunya penerapan tarif.
Meski demikian, Tangen mengatakan pasar saham masih terus menguat meskipun menghadapi berbagai sentimen negatif.
"Menarik melihat bagaimana perekonomian kini lebih tangguh dibandingkan masa lalu. Jelas sekali bahwa perusahaan telah membenahi rantai pasok dan menyiapkan berbagai sistem cadangan; secara umum, situasi pasokan mereka pun tampak lebih fleksibel," katanya.
Tangen menilai perusahaan saat ini lebih siap menghadapi gangguan rantai pasok dibandingkan sebelumnya. Kondisi tersebut membuat perekonomian lebih mampu bertahan meskipun menghadapi hambatan perdagangan.
"Jika kita menengok ke belakang dua tahun yang lalu saat adanya prediksi mengenai tarif dan hambatan perdagangan kita tentu tidak akan menyangka bahwa pasar dan perekonomian akan sekuat saat ini. Jadi, ini adalah perekonomian yang tangguh," ujar Tangen.(DH)