StanChart pangkas proyeksi ekonomi global, Indonesia naik jadi 5,3%

Rabu, 12 Agustus 2026

image

JAKARTA – Standard Chartered merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026, dari 5,2% menjadi 5,3%, ditopang kondisi domestik yang dinilai semakin kondusif meski kondisi perekonomian global tertekan.

Menurut Standard Chartered, investasi diproyeksikan masih menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia – termasuk dalam hal hilirisasi industri dan investasi digital.

“Seiring ruang fiskal yang semakin terbatas, peran investasi swasta dan penanaman modal asing (foreign direct investment atau FDI) akan semakin penting dalam menopang pertumbuhan jangka panjang,” ujar pihak Standard Chartered dalam siaran resmi yang diterima IDNFinancials, Rabu (12/8).

Di sisi lain, bank internasional ini juga memperkirakan inflasi akan mendarat di kisaran 3,4% pada 2026. Namun, Aldian Taloputra, Senior Economist Standard Chartered Indonesia, optimistis bahwa inflasi ini masih terkendali.

“Meskipun inflasi berpotensi meningkat akibat tekanan biaya impor, kami memperkirakan kenaikannya tetap terkendali dan tidak akan menggerus daya beli masyarakat secara signifikan,” tegas Aldian dalam keterangan resminya.

Menurutnya, secara umum, Indonesia masih menjadi salah satu ekonomi paling tangguh di kawasan.

“Di kawasan Asia, negara-negara yang didukung oleh permintaan domestik yang kuat, termasuk Indonesia dan India, diperkirakan akan tetap menunjukkan kinerja yang lebih tangguh,” jelas pihak Standard Chartered lebih lanjut.

Pasalnya, Standard Chartered justru menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2026 dengan cukup signifikan, dari 3,4% menjadi 3%.

Menurut Edward Lee, Chief Economist and Head of FX, ASEAN & South Asia Standard Chartered, risiko terkait konflik di Selat Hormuz telah mencapai puncaknya di semester I 2026 lalu.

Namun, ketenangan AS-Iran masih rapuh, serta pasokan dan distribusi energi masih volatil. Selain itu, terdapat ancaman tarif AS dan pertumbuhan ekonomi dunia, yang terlalu bergantung pada permintaan terkait AI.

“Skenario baseline kami adalah pertumbuhan stabil di semester II, namun beberapa faktor akan menguji apakah resiliensi pada semester I dapat dipertahankan,” imbuh Edward. (ZH)