PDB Amerika tumbuh 4,3%, ekonom Moody’s tetap waspadai resesi
Kamis, 25 Desember 2025
JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada kuartal III tampak impresif di atas kertas.
Data terbaru menunjukkan PDB AS tumbuh 4,3%, jauh melampaui perkiraan mayoritas ekonom. Namun, bagi Mark Zandi, Kepala Ekonom Moody’s Analytics, angka tersebut belum mencerminkan kekuatan ekonomi yang sesungguhnya.
Dikutip Business Insider, Zandi menilai lonjakan PDB kuartalan itu menutupi pelemahan fundamental ekonomi.
“Meskipun terjadi peningkatan besar dalam pertumbuhan PDB riil pada kuartal ini, pertumbuhan PDB riil yang mendasarinya dengan mengabaikan fluktuasi data triwulanan lebih mendekati 2%,” kata Zandi. Ia menambahkan, “Lumayan, tetapi tidak bagus, dan tidak cukup kuat untuk menciptakan lapangan kerja yang cukup, karena pengangguran terus meningkat.”
Zandi menegaskan, sepanjang tahun ini ia telah memperingatkan bahwa ekonomi AS berada di ambang resesi, dan laporan PDB terbaru belum cukup untuk mengubah pandangannya. Meski angka pertumbuhan melampaui ekspektasi, ia menduga hasil tersebut dipengaruhi oleh faktor teknis, bukan dorongan permintaan yang berkelanjutan.
Menurut Zandi, penyempitan defisit perdagangan dan lonjakan belanja pemerintah dua faktor utama pendorong PDB sebagian besar dipicu oleh dampak tarif dan persoalan pengukuran data.
“Perbedaan terbesar dengan perkiraan saya adalah penyempitan defisit perdagangan yang lebih substansial, tetapi ini disebabkan oleh fluktuasi yang ditimbulkan oleh tarif. Belanja pemerintah juga lebih kuat, tetapi ini kemungkinan disebabkan oleh masalah pengukuran,” ujarnya.
Ia juga menyoroti risiko revisi data akibat penutupan pemerintah yang menunda rilis laporan tersebut. “I can't explicitly connect the dots from the government shutdown, its impact on the government data, and on the GDP estimate,” kata Zandi, seraya menambahkan, “Namun, tidak akan mengejutkan jika data ini pada akhirnya direvisi secara signifikan.”
Bagi Zandi, lonjakan PDB kuartal III belum cukup menjadi bukti bahwa ekonomi AS telah kembali ke jalur yang kuat, terutama ketika pengangguran terus merangkak naik dan pertumbuhan dasar dinilai masih rapuh.(DH)