Tren tiru meniru marak, mobil-mobil listrik China makin mirip

Jumat, 26 Desember 2025

image

JAKARTA - Industri otomotif China dinilai tengah menghadapi krisis orisinalitas akibat tren ikut-ikutan yang semakin masif, terutama di segmen kendaraan energi baru (NEV).

Desain mobil listrik di China kini makin mirip dan cenderung seragam, mulai dari lampu depan model strip menyambung, lidar di atap, gagang pintu tersembunyi, hingga tata letak interior dengan panel instrumen kecil, layar tengah besar, dan setir flat bottom.

Dkutip carnewschina.com, fenomena homogenisasi ini diperparah dengan adopsi teknologi mengemudi canggih Huawei Qiankun ADS yang pada 2025 hampir menjadi fitur standar di berbagai model baru, termasuk mobil hasil kerja sama seperti Audi A5L dan Q5L.

Wakil Presiden sekaligus Kepala Desain Global Geely, Chen Zheng, secara terbuka mengkritik kondisi tersebut. Ia menilai industri otomotif China telah terjebak dalam praktik meniru tren populer tanpa seleksi, sehingga identitas merek menjadi kabur dan sulit dibedakan oleh konsumen hanya dari tampilan visual.

Kritik serupa disampaikan Chairman Voyah, Lu Fang. Menurutnya, persaingan yang tampak sengit antarprodusen sejatinya mencerminkan lemahnya inovasi. “Banyak perusahaan mengejar keuntungan jangka pendek, sering memilih menyalin dan meniru daripada melakukan inovasi orisinal berbasis kebutuhan pengguna,” ujarnya.

Ironisnya, Dongfeng perusahaan induk Voyah juga pernah terseret isu plagiarisme. Saat Dongfeng Forthing Xinghai S7 diperkenalkan, Direktur Desain IM Motors mempertanyakan orisinalitas desainnya karena dinilai sangat mirip dengan IM L7.

Maraknya peniruan dinilai tidak lepas dari tingginya biaya pengembangan kendaraan. Produksi mobil membutuhkan pengelolaan rantai pasok ribuan komponen serta pemenuhan standar keselamatan dan teknis yang ketat. Akibatnya, banyak produsen memilih jalan pintas.

Sumber industri mengungkapkan bahwa daftar komponen antarprodusen NEV sangat mirip. “Mobil-mobil ini mungkin terlihat kaya fitur, tetapi pada kenyataannya hanya tiruan dengan tampilan luar berbeda, sementara teknologi dasarnya sama.”

Masalah ini semakin kompleks karena lemahnya perlindungan hak kekayaan intelektual. Menurut laporan media China Sohu, penentuan pelanggaran desain eksterior bersifat subjektif dan banyak gugatan berakhir damai atau dihentikan. Kondisi tersebut dinilai turut mendorong sebagian produsen bertindak semakin agresif dalam meniru desain pesaing.(DH)