Yen anjlok terburuk dalam 3 bulan, intervensi Jepang mulai memudar

Jumat, 14 Agustus 2026

image

TOKYO - Yen Jepang menuju penurunan mingguan terbesar dalam tiga bulan pada Jumat (14/8), setelah dampak intervensi Jepang dan Amerika Serikat mulai memudar.

Seperti dikutip Reuters, kondisi tersebut mendorong pelaku pasar memperkirakan perlunya intervensi resmi lanjutan untuk menahan pelemahan mata uang tersebut.

Yen telah kehilangan sekitar setengah dari penguatan yang dipicu intervensi pada akhir Juli dan awal Agustus. Yen melemah sekitar 1% sepanjang pekan ini ke level 159,43 per dolar.

Sebelum intervensi pada Juli, yen diperdagangkan mendekati 164 per dolar. Pelaku pasar kini melihat level 160 per dolar sebagai salah satu titik yang berpotensi memicu tindakan resmi baru dari otoritas Jepang.

Pelemahan yen sepanjang pekan ini menjadi yang terbesar sejak Mei, ketika mata uang tersebut juga kembali tertekan setelah intervensi pemerintah.

Terhadap euro, yen melemah sekitar 0,8% menjadi 183,91 yen per euro, mencatat penurunan mingguan terbesar sejak April.

Pada perdagangan Jumat, yen relatif stabil. Namun, mata uang Jepang telah mengalami tren pelemahan dalam beberapa tahun terakhir dan sebelumnya sempat berada di level terendah hampir empat dekade.

Tekanan tersebut dipengaruhi suku bunga Jepang yang secara konsisten rendah serta kekhawatiran baru mengenai belanja pemerintah dan pendanaan negara.

Mantan diplomat mata uang senior Jepang, Mitsuhiro Furusawa, mengatakan Jepang dapat melakukan intervensi bersama untuk menopang yen "kapan saja" sekaligus memberikan sinyal kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan.

Pasar juga mulai memperkirakan Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga lebih lanjut dan lebih cepat dari ekspektasi sebelumnya.

Ekspektasi tersebut menguat setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Jepang perlu memperkuat intervensi mata uang dengan kebijakan dan fundamental yang mendukung yen.

"Memang tidak terlalu mengejutkan bahwa yen kembali melemah," kata Strategis OCBC Sim Moh Siong.Menurutnya, intervensi hanya dapat mengubah tren yen jika dibarengi dengan sikap BOJ yang lebih hawkish. Pasar saat ini masih menunggu kepastian dari bank sentral Jepang.

Data Tokyo Tanshi menunjukkan pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga BOJ pada September mencapai 76%, meningkat tajam dari 24% pada 30 Juli.

Namun, ekspektasi tersebut juga meningkatkan risiko yen kembali melemah jika BOJ gagal memenuhi harapan pasar.

Di pasar valuta asing lainnya, yuan China di pasar offshore berada di sekitar 6,7452 per dolar pada Jumat, tidak jauh dari level tertinggi dalam 3,5 tahun yang dicapai pekan lalu.

Won Korea Selatan, yang turut mendapat dukungan intervensi pemerintah ketika otoritas Korea Selatan menjual dolar bersama Jepang bulan lalu, relatif lebih stabil dibandingkan yen.

Namun, won tetap menuju pelemahan sekitar 0,6% terhadap dolar sepanjang pekan ini.

"Intervensi, menurut saya, bahkan jika dilakukan secara terkoordinasi dan sangat kuat, paling baik hanya bersifat sementara, dan paling buruk justru mengundang pasar untuk mengujinya," kata Omar Slim, Co-Head Asia Public Fixed Income di MetLife Investment Management.

Sementara itu, pasar valuta asing secara umum relatif stabil pekan ini. Dolar mendapat dukungan dari kenaikan harga minyak dan ketegangan di Timur Tengah, tetapi tertahan oleh data ketenagakerjaan dan inflasi AS yang cukup moderat sehingga mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Data terbaru juga menunjukkan harga produsen AS tidak berubah pada Juli. Kondisi ini semakin menekan ekspektasi kenaikan suku bunga pada September, yang kini diperkirakan hanya memiliki peluang sekitar 35%.

Euro melemah 0,2% sepanjang pekan menjadi US$1,1536, sedangkan poundsterling relatif datar di US$1,3489. Dolar Australia berada di sekitar US$0,7060. (DK)