Hacker curi data 50 perusahaan, termasuk Shell, Phillips dan GE
Jumat, 14 Agustus 2026
JAKARTA - Kelompok peretas Cl0p mengklaim mencuri data dalam jumlah besar dari hampir 50 perusahaan di berbagai negara, termasuk Philips, Shell, Fiserv, dan GE.
Reuters belum dapat memverifikasi secara independen jenis dan jumlah data yang diklaim dicuri. Cl0p juga tidak merespons permintaan komentar.
Philips mengonfirmasi menjadi salah satu target. Perusahaan mengatakan telah mengidentifikasi dan mengatasi upaya peretasan terhadap server perusahaan yang berkaitan dengan data internal.
“Philips telah mengidentifikasi dan membatasi upaya kompromi keamanan siber terhadap server perusahaan tertentu yang terkait dengan data internal,” kata Philips dalam pernyataannya, seperti dikutip Reuters.
Philips menegaskan insiden tersebut tidak berdampak pada sistem pelanggan.
Shell juga mengakui mengetahui adanya “possible incident” setelah media Belanda BNR sebelumnya melaporkan dugaan serangan terhadap perusahaan.
“Kami sedang bekerja sama dengan tim keamanan dan para ahli terkait untuk menyelidiki situasi ini,” ujar juru bicara Shell.
Fiserv Belum Temukan Kebocoran Data
Fiserv mengatakan telah mengetahui klaim Cl0p. Namun, hasil pemeriksaan perusahaan sejauh ini belum menemukan bukti bahwa data pelanggan, perbankan, transaksi, maupun data pribadi telah dikompromikan.
Fiserv juga belum menemukan dampak terhadap lingkungan operasionalnya.
Sementara itu, GE mengatakan mengetahui klaim tersebut dan telah mengaktifkan protokol respons keamanan siber untuk menilai potensi dampaknya.
Cl0p Eksploitasi Celah Software
Metode yang digunakan Cl0p untuk mengakses perusahaan-perusahaan tersebut belum terungkap. Namun, Ransom-ISAC pada 22 Juli memperingatkan bahwa kelompok tersebut mengeksploitasi kerentanan pada PTC Windchill dan FlexPLM.
Kedua perangkat lunak tersebut digunakan dalam proses rekayasa dan manufaktur.
PTC, perusahaan pengembang perangkat lunak tersebut, belum memberikan tanggapan. Perusahaan sebelumnya telah menerbitkan sejumlah pemberitahuan keamanan sejak 18 Juni yang meminta pelanggan memasang patch untuk menutup kerentanan.
Brandon Parsons, threat intelligence manager di Ascent Solutions sekaligus penulis laporan Ransom-ISAC, mengatakan sejumlah perusahaan mulai menerima pemberitahuan dari Cl0p pada 19-20 Juli.
Menurut Parsons, Cl0p tidak secara khusus memburu perusahaan tertentu. Kelompok tersebut mencari kerentanan pada perangkat lunak yang digunakan banyak perusahaan, kemudian mengeksploitasinya untuk menyerang banyak target sekaligus.
“Mereka sebenarnya tidak menargetkan perusahaan tertentu, mereka menargetkan kerentanan zero day tertentu dan mengejarnya,” kata Parsons.
Ia menyebut Cl0p sebagai “professional data extortionists.”(DH)