Pasar AI diperkirakan terbelah di 2026, investor mulai fokus arus kas?
Jumat, 26 Desember 2025

JAKARTA - Pasar kecerdasan buatan (AI) diperkirakan mulai terbelah pada 2026, seiring investor makin selektif membedakan siapa yang benar-benar menghasilkan uang dan siapa yang hanya membelanjakannya.Gejolak pasar teknologi pada tiga bulan terakhir 2025, ditandai aksi jual dan reli tajam saham teknologi, memicu kekhawatiran akan terbentuknya gelembung AI.Seperti dikutip cnbc.com, lonjakan valuasi, penerbitan utang, serta transaksi berulang menjadi sinyal awal perubahan arah investasi AI ke depan.Chief Investment Officer Blue Whale Growth Fund, Stephen Yiu, menilai volatilitas tersebut mencerminkan fase baru pasar, di mana investor mulai fokus pada arus kas dan model bisnis, bukan sekadar narasi pertumbuhan.“Selama ini, semua perusahaan terlihat seperti pemenang,” kata Yiu kepada CNBC.
Namun, menurutnya, AI masih berada di tahap awal. “Pembedaan antarperusahaan menjadi sangat penting, dan itulah yang mulai dilakukan pasar.”Yiu membagi ekosistem AI ke dalam tiga kelompok utama: perusahaan privat atau startup AI, perusahaan publik yang membelanjakan dana besar untuk AI, serta penyedia infrastruktur AI.Kelompok pertama, termasuk OpenAI dan Anthropic, berhasil menarik pendanaan modal ventura sebesar US$176,5 miliar pada sembilan bulan pertama 2025, berdasarkan data PitchBook.Sementara itu, raksasa teknologi seperti Amazon, Microsoft, dan Meta menjadi pembeli utama infrastruktur AI, dengan dana besar mengalir ke perusahaan seperti Nvidia dan Broadcom.Blue Whale menilai kelayakan valuasi perusahaan dengan membandingkan imbal hasil arus kas bebas (free cash flow yield) terhadap harga saham.Menurut Yiu, sebagian besar saham dalam kelompok “Magnificent Seven” kini diperdagangkan dengan premi signifikan sejak agresif berinvestasi di AI.“Meski saya percaya AI akan mengubah dunia, saya tidak ingin memposisikan investasi pada pihak yang mengeluarkan belanja besar,” ujarnya.Ia menambahkan, perusahaannya lebih memilih berada “di sisi penerima” belanja AI.Pandangan serupa disampaikan Chief Market Strategist Barclays Private Bank and Wealth Management, Julien Lafargue.Menurutnya, euforia AI tidak merata di seluruh pasar, melainkan terkonsentrasi pada segmen tertentu.Risiko terbesar, kata Lafargue, terdapat pada perusahaan yang menikmati arus dana dari tren AI tetapi belum menghasilkan laba, seperti sejumlah perusahaan terkait komputasi kuantum.“Posisi investor tampaknya lebih didorong optimisme dibandingkan hasil nyata. Diferensiasi menjadi kunci,” ujarnya.Kebutuhan untuk memilah investasi juga mencerminkan perubahan model bisnis perusahaan teknologi besar.Perusahaan yang sebelumnya ringan aset kini berubah menjadi padat modal, seiring kebutuhan akan GPU, pusat data, energi, dan lahan demi menopang strategi AI.Meta dan Google, misalnya, kini beroperasi layaknya hyperscaler dengan belanja modal besar, yang mengubah profil risiko dan model bisnis mereka.Kepala Multi-Asset Income Schroders, Dorian Carrell, menilai valuasi ala perusahaan perangkat lunak tidak lagi sepenuhnya relevan.“Kami tidak mengatakan strategi ini gagal, tetapi apakah pantas membayar valuasi setinggi itu dengan ekspektasi pertumbuhan yang sangat tinggi?” kata Carrell dalam wawancara dengan CNBC. (DK)