Trump: Warga Amerika siap-siap hadapi harga minyak tinggi

Sabtu, 15 Agustus 2026

image

KAIRO/GARDEN CITY — Iran meminta Amerika Serikat (AS) untuk menerima kekalahan dalam perang, sementara Presiden Donald Trump menyebut Iran sebagai negara "jahat" dan meminta warga AS bersiap untuk menghadapi harga bahan bakar yang tetap tinggi.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kedua pihak masih jauh dari kesepakatan untuk mengakhiri konflik.

Seperti dikutip Reuters, perundingan damai dan lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz sama-sama masih terhenti. Iran juga menegaskan akan tetap mengendalikan jalur pelayaran strategis tersebut.

"Selat ini hanya akan dibuka dan ditutup atas perintah Iran. Selama Anda tidak menerima kenyataan bahwa Anda telah kalah dan terus hidup dalam khayalan, Iran akan terus memberlakukan blokade," kata Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, melalui unggahan di X pada Sabtu (15/8).

"Selat Hormuz tidak dapat dikuasai hanya dengan sebuah unggahan di X, menugaskankapal induk, ataupun menyampaikan pidato kampanye," ujarnya.

Sebelum perang antara AS dan Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026, sekitar satu dari setiap lima barel minyak yang diperdagangkan di dunia melewati Selat Hormuz.

Trump yang tidak lama lagi akan menghadapi pemilihan paruh waktu, pada Jumat (14/8) meminta warga AS untuk menerima kenaikan harga bensin selama konflik dengan Iran masih berlangsung.

Dalam sebuah kampanye politik di Garden City, New York, Trump mengatakan akan membayar "sedikit lebih mahal untuk bensin" sepadan dengan upaya memastikan "negara yang sangat jahat" tidak memiliki senjata nuklir.

Pencegahan Iran memiliki senjata nuklir menjadi salah satu alasan yang dikemukakan Trump untuk perang tersebut.

Harga rata-rata bensin di AS mencapai sekitar US$4,08 per galon pada Jumat (14/8), menurut American Automobile Association. Angka tersebut naik 29% dari US$3,16 per galon setahun sebelumnya.

Hanya dua kapal yang tercatat melintasi Selat Hormuz pada Jumat (14/8), berdasarkan analisis perusahaan pelacak kapal Kpler.

Satu kapal pengangkut biji-bijian memasuki perairan Iran, sementara satu kapal pengangkut barang curah dalam kondisi kosong bergerak ke arah sebaliknya. Data Kpler juga menunjukkan satu kapal pengangkut gas minyak cair dalam kondisi kosong sedang memasuki Teluk melalui selat tersebut.

Tidak Ada Pengiriman Minyak 

Sebagian kapal masih mungkin melintasi selat tanpa terdeteksi karena mematikan transponder. Namun, jumlah tersebut jauh di bawah lebih dari 130 kapal yang melintas setiap harinya sebelum perang.

Kapal yang berani melintasi Selat Hormuz tanpa izin Iran berisiko menjadi sasaran rudal atau drone. Abu Dhabi National Oil Company milik Uni Emirat Arab (UEA) mengatakan dua kapalnya diserang saat melintasi selat tersebut pada Kamis malam (13/8).

Kantor berita pemerintah UEA, WAM, kemudian melaporkan satu kapal lainnya kembali diserang pada Jumat (14/8).

Iran menyebutkan bahwa pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz merupakan blokade. AS juga menggunakan istilah yang sama untuk ancaman blokade terhadap kapal-kapal Iran yang meninggalkan pelabuhan.

"Apa yang kami lakukan adalah jasa besar bagi dunia, bukan hanya untuk diri kami sendiri ... dan kami benar-benar melakukan pekerjaan yang sangat baik," kata Trump.

Dia juga mengatakan pengerahan kapal induk AS untuk mendukung perang selama 260 hari "jauh dari cukup lama".

Kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang yang dicapai pada Juni kini gagal dipertahankan. Belum ada tanda-tanda AS maupun Iran akan kembali melanjutkan perundingan damai.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan belum ada keputusan untuk memulai kembali negosiasi dengan AS, menurut laporan Iranian Student News Agency pada Sabtu (15/8).

Qatar dan Pakistan sebagai mediator masih berkomunikasi dengan Iran dan bertukar pesan, tetapi belum sampai pada tahap perundingan, menurut laporan tersebut.

Tekanan Ekonomi Iran

Kenaikan harga bahan bakar berlawanan dengan janji kampanye Trump untuk menekan biaya energi. Partai Demokrat juga berupaya menjadikan dampak ekonomi perang Iran sebagai isu dalam pemilu paruh waktu AS pada November.

Penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz turut mendorong harga kontrak minyak mentah naik sekitar US$1 per barel pada Jumat. Kontrak minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) masing-masing berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan sebesar 6% dan 5,4%.

Gharibabadi mengatakan Teheran tidak akan terintimidasi oleh ancaman maupun unjuk kekuatan militer. Namun, sejumlah tanda menunjukkan perang mulai memberikan tekanan ekonomi terhadap Iran.

Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menyalahkan tingginya inflasi pada blokade AS terhadap pelabuhan Iran dan sanksi terhadap ekspor minyak negara tersebut.

Trump dan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent sama-sama berjanji akan meningkatkan tekanan finansial terhadap Iran. Bessent mengatakan dalam wawancara dengan Newsmax pada Kamis bahwa Washington akan mengumumkan langkah-langkah baru terhadap Iran pada pekan depan.

Serangan terbaru kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman juga kembali meningkatkan kekhawatiran konflik meluas ke negara-negara lain di kawasan. Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mengatakan Houthi menembakkan enam rudal balistik ke pelabuhan Mocha di Laut Merah pada Jumat (14/8). Serangan tersebut menewaskan empat warga sipil.

Secara terpisah, kantor berita SABA yang dikelola Houthi mengutip sumber militer yang mengatakan kelompok tersebut menargetkan fasilitas Aramco di kota Najran, Arab Saudi, menggunakan sebuah drone. (ARF)