Mitsuhiro Furusawa: Jepang intervensi yen hanya untuk membeli waktu
Sabtu, 15 Agustus 2026
TOKYO — Jepang dinilai dapat kembali melakukan intervensi untuk menopang yen sewaktu-waktu. Tokyo juga perlu memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga dapat dilakukan lebih cepat dari perkiraan untuk menghentikan pelemahan mata uang tersebut.
Dikutip dari Reuters, mantan pejabat senior Jepang yang menangani urusan internasional di Kementerian Keuangan, Mitsuhiro Furusawa, mengatakan bahwa yen saat ini jelas terlalu lemah.
Pelemahan yen meningkatkan biaya impor dan mulai membebani perekonomian Jepang.
Furusawa yang juga menjabat sebagai Presiden Institute for Global Financial Affairs, Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC), mengatakan Jepang dan Amerika Serikat (AS) dapat kembali melakukan intervensi jika yen kembali melemah ke level sebelum kedua negara tersebut melakukan intervensi bersama pada bulan lalu.
"Intervensi mungkin tidak dilakukan secara khusus pada level, misalnya, 160 atau 162 yen per dolar AS. Namun, intervensi dapat kembali dilakukan kapan saja, termasuk melalui tindakan bersama dengan AS," kata Furusawa kepada Reuters pada Kamis (13/8).
Intervensi bersama Jepang dan AS pada bulan lalu mendorong yen menguat dari level terlemahnya dalam 40 tahun, yakni 163,99 yen per dolar AS, menjadi sekitar 155,20 yen per dolar AS. Namun, yen kembali melemah dan kini berada di sekitar 159,50 yen per dolar AS.
Menurut Furusawa, intervensi hanya mengulur waktu bagi pemerintah. Jepang tetap membutuhkan kebijakan yang lebih mendasar untuk membalikkan tren pelemahan yen, salah satunya dengan mempercepat kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ).
"Sebagian besar pelaku pasar memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga pada September dan saya pikir memang seharusnya begitu. Namun, yang lebih penting adalah bank sentral memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga dapat dilakukan dengan lebih cepat," kata Furusawa.
Sejak mengakhiri kebijakan stimulus besar-besaran selama satu dekade pada 2024, BOJ menaikkan suku bunga sekitar dua kali dalam setahun. Pada Juni, BOJ menaikkan suku bunga ke level 1%, tertinggi dalam 31 tahun.
Furusawa memperkirakan BOJ ingin menaikkan suku bunga hingga sekitar 1,5%-1,75%. Perkiraan tersebut mengacu pada estimasi BOJ bahwa suku bunga netral Jepang, yakni tingkat yang tidak mendorong maupun menekan pertumbuhan ekonomi, berada dalam kisaran 1,1%-2,5%.
"Setelah September, kenaikan berikutnya kemungkinan dilakukan pada Desember atau Januari. Setelah itu, kenaikan berikutnya dapat dilakukan pada tahun fiskal berikutnya yang dimulai April 2027, selama perekonomian tidak kehilangan momentumnya," ujarnya.
Dorongan dari Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dan sejumlah pernyataan BOJ yang lebih tegas terkait inflasi telah memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga pada September.
Berdasarkan data Tokyo Tanshi, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September mencapai 76%, naik dari 24% pada 30 Juli.
Furusawa mengatakan pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi, perlu memastikan tidak menghambat kenaikan suku bunga BOJ. Pemerintah juga perlu memenuhi komitmennya terhadap keberlanjutan fiskal.
"Hasil yang ideal adalah menggunakan kebijakan moneter dan fiskal untuk keluar dari kondisi ketika yen mengalami tekanan jual berlebihan. Pada saat yang sama, strategi pertumbuhan mulai membuahkan hasil dan memperkuat perekonomian Jepang," kata Furusawa.
"Hal itu akan memungkinkan yen menguat secara bertahap dari waktu ke waktu," lanjutnya.
Furusawa pernah bekerja di Kementerian Keuangan Jepang sebelum menjabat sebagai wakil direktur pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) hingga 2021. Saat ini, ia menjabat sebagai presiden Institute for Global Financial Affairs milik Sumitomo Mitsui Banking Corp.
Furusawa bertemu Bessent pada tahun lalu sebagai anggota ABAC, kelompok pelaku usaha yang memberikan masukan kepada para pemimpin Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC). (ARF)