Tekanan dekarbonisasi mereda, ALII masih andalkan batu bara di 2026
Jumat, 26 Desember 2025

JAKARTA – PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII), emiten angkutan batu bara di bawah Grup Bakrie, memproyeksikan kegiatan usaha di 2026 masih akan ditopang permintaan angkutan batu bara.
“Perseroan masih berupaya untuk memenuhi permintan dari dua pelanggan utama Perseroan seiring dengan peningkatan volume produksi ke depannya,” ujar manajemen dalam Public Expose Insidentil ALII, Selasa (23/12).
Dua pelanggan utama ALII adalah anak usaha PT Kutai Bara Nusantara, PT Ade Putra Tanrajeng dan PT Guruh Putra Bersama, yang diketahui masih merupakan afiliasi Grup Bakrie.
Menurut manajemen Perseroan, melalui dua pelanggan utama tersebut, ALII masih lebih banyak menangani permintaan batu bara domestik, karena ekspor ke dua negara destinasi utama, China dan India, menjadi terganggu.
“Kondisi ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor regional, global, dan kondisi bisnis yang tidak begitu baik, tetapi juga didorong oleh harga penjualan domestik yang cukup menarik,” ujar manajemen lebih lanjut.
ALII memang mencatatkan volume pengangkutan tongkang 300 feet turun signifikan menjadi 942 ribu metric ton (MT) per September 2025—hanya mencapai kurang dari 50% pengangkutan pada periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu sebesar 1,98 juta MT.
Namun, Perseroan menargetkan peningkatan volume pengangkutan melalui penambahan fasilitas Intermediate Stockpile (ISP) tambahan, serta meningkatnya pendapatan dari tongkang 180 feet dan 300 feet di tahun 2026.
“Sejalan dengan peningkatan volume produksi dari 2 pelanggan utama Perseroan serta arah strategi bisnis Perseroan ke depannya,” ujar manajemen lebih lanjut.
Perseroan menunjukkan optimismenya mengenai industri batu bara, terlepas dari tekanan dekarbonisasi global—yang menurut Perseroan, masih akan menjadi komoditas yang menarik dan memiliki tingkat permintaan yang tinggi, setidaknya 20 tahun ke depan..
“Sepanjang pengetahuan manajemen, PLTU di Tiongkok dan India hingga saat ini juga masih mengandalkan batubara dan menjadi pendorong utama permintaan energi batubara secara global,” ujar manajemen.
Manajemen ALII juga menilai bahwa tekanan dekarbonisasi global telah mereda seiring inisiatif Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donald Trump, yang menangguhkan proyek pembangkit listrik tenaga angin di wilayah pesisir timur.
“Kebijakan ini menunjukkan adanya perubahan arah kebijakan energi di tingkat global… Kami melihat kedepannya adanya pendekatan yang lebih realistis, khususnya di negara-negara berkembang,” imbuh mereka.
Di sisi lain, Perseroan juga membuka peluang untuk mendiversifikasi lini angkutan ke komoditas mineral, seperti bauksit, nikel, dan mineral cair lainnya.
Manajemen mengaku masih terus mengupayakan diversifikasi tersebut pada tahun 2026, sebagai target jangka menengah-panjang ALII ke depannya.
“Perseroan terus melakukan penjajakanpenjajakan kepada pihak-pihak terkait agar pergerakan Perseroan kearah diversifikasi ini menjadi lebih cepat terealisasi,” klaim manajemen. (ZH)