Gelombang sell-off obligasi mereda, yield US Treasury masih tinggi
Rabu, 19 Agustus 2026
JAKARTA - Aksi jual (sell-off) obligasi global mulai mereda pada perdagangan Rabu (19/8), tetapi imbal hasil surat utang masih bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa dekade. Kekhawatiran terhadap membengkaknya utang pemerintah membuat biaya pembiayaan meningkat dan kembali menekan pasar saham global.
Seperti dikutip Reuters, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 30 tahun sempat mencapai 5,3371% pada Selasa (18/8), level tertinggi dalam hampir 20 tahun. Di perdagangan Asia, yield tersebut bergerak stabil di sekitar 5,28%.
Di Eropa, yield obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun dan 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2011.
Sementara itu, yield obligasi Prancis tenor 30 tahun telah melonjak hampir 50 basis poin sejak akhir Juni.
Kenaikan yield juga terjadi di Jepang. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun yang sebelumnya bertahan di sekitar nol kini mendekati 3%. Inflasi yang meningkat dan kekhawatiran investor terhadap lambatnya respons pembuat kebijakan menjadi pemicu utama.
"Para investor tidak lagi percaya bahwa pengeluaran (pemerintah) akan terkendali. Bahkan, mereka memperhitungkan risiko bahwa pengeluaran tersebut tidak akan terkendali," kata Nigel Green, CEO deVere Group.
Meski tekanan jual obligasi mulai mereda pada perdagangan Asia, prospek inflasi masih menjadi perhatian. Harga minyak Brent bertahan di atas US$90 per barel karena belum ada perkembangan terkait kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi kapal tanker minyak.
Pasar juga menunggu publikasi risalah rapat Federal Reserve (The Fed) pada Rabu. Dalam rapat Juli, bank sentral AS mempertahankan suku bunga.
Namun, Ketua The Fed, Kevin Warsh, membuat investor waspada karena memberikan sedikit petunjuk mengenai respons bank sentral terhadap inflasi yang masih tinggi.
Di saat yang sama, Departemen Keuangan AS akan menawarkan surat utang pemerintah tenor 20 tahun senilai US$16 miliar. Penerbitan tersebut menjadi perhatian pasar di tengah meningkatnya pasokan utang dan tuntutan investor terhadap imbal hasil yang lebih tinggi.
Saham Asia Tertekan
Tekanan dari pasar obligasi turut menjalar ke pasar saham. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 1,7%, sedangkan indeks Nikkei Jepang terkoreksi 2,6%. Penurunan tersebut mengikuti pelemahan saham teknologi di Wall Street pada perdagangan sebelumnya.
Kontrak berjangka saham AS dan Eropa juga bergerak turun sekitar 0,1%.
Di China, saham Unitree Robotics, produsen robot humanoid terbesar di dunia, justru melonjak 600% pada debut perdananya. Penawaran saham tersebut mencatat kelebihan permintaan investor ritel lebih dari 8.000 kali.
Namun, secara umum saham teknologi dan semikonduktor Asia masih berada di bawah tekanan. Pergerakan tersebut mengikuti pelemahan saham teknologi AS serta laporan bahwa pendapatan tahunan Anthropic mencapai US$65 miliar pada akhir Juli, lebih rendah dari ekspektasi sebagian pelaku pasar.
Sentimen penghindaran risiko turut menopang dolar AS, meski penguatannya masih terbatas. Euro bergerak di sekitar US$1,1576, sedangkan yen berada di 159,44 per dolar AS dan semakin mendekati level 160 yang dipandang pasar sebagai potensi pemicu intervensi pemerintah Jepang.
Dolar Kanada sedikit menguat setelah Presiden AS Donald Trump menunda penerapan tarif 50% terhadap barang Kanada selama tiga hari. Trump mengatakan kedua negara telah mencapai kesepakatan.
Investor selanjutnya akan mencermati data inflasi Inggris serta laporan keuangan Lowe's, Target, dan TJX. Data tersebut menjadi perhatian setelah penjualan ritel AS pada pekan lalu tumbuh lebih lemah dari perkiraan.
Home Depot mencatat penjualan dan laba kuartal II di atas ekspektasi pada Selasa, didukung permintaan perbaikan dan pemeliharaan rumah. Namun, data AS menunjukkan pembangunan rumah baru merosot pada Juli akibat kenaikan suku bunga hipotek.
Tekanan pada pasar obligasi juga meningkat akibat melonjaknya penerbitan surat utang oleh perusahaan teknologi besar atau AI hyperscalers. Alphabet, induk Google, menjadi salah satu perusahaan terbaru yang dilaporkan berencana menghimpun sekitar A$5 miliar atau US$3,5 miliar melalui penerbitan obligasi berdenominasi dolar Australia.
"Pada dasarnya, investor marginal di pasar obligasi khususnya obligasi tenor panjang dan obligasi pemerintah mulai menjadi sedikit lebih sensitif terhadap harga di tengah maraknya penerbitan utang," kata Jack Chambers, Senior Rates Strategist ANZ.(DH)