Peretas Mt. Gox terlihat jual 1.300 bitcoin, aset tersisa US$360 juta
Sabtu, 27 Desember 2025

WASHINGTON – Aliran bitcoin yang dikaitkan dengan hacker peretas Mt. Gox, Aleksey Bilyuchenko, kembali bergerak ke bursa kripto, memperpanjang arus pasokan lama yang telah dipantau analis sejak musim gugur lalu.
[[ Mt. Gox merupakan bursa bitcoin terbesar di dunia pada era awal kripto. Berbasis di Tokyo, Jepang, platform ini menangani sekitar 70% transaksi bitcoin global sebelum kolaps pada 2014 setelah mengungkap hilangnya sekitar 850.000 BTC akibat peretasan dan kelemahan sistem internal. Ini menjadi salah satu skandal terbesar dalam sejarah kripto. ]]
Data on-chain menunjukkan penjualan dilakukan secara bertahap, bukan melalui aksi jual besar sekaligus, sehingga suplai lama kembali menekan pasar secara perlahan.
Analis Arkham Intelligence, Emmett Gallic, menyebut entitas yang terkait dengan Bilyuchenko telah menyetor tambahan 1.300 bitcoin (BTC) senilai sekitar US$114 juta ke bursa kripto yang tidak teridentifikasi dalam tujuh hari terakhir.
Dilansir dari Bitcoinist.com, secara keseluruhan dompet tersebut masih menyimpan sekitar 4.100 BTC atau setara US$360 juta, setelah sebelumnya menjual total 2.300 BTC.
“Entitas terkait Aleksey Bilyuchenko telah menyetor 1,3 ribu BTC (US$114 juta) ke bursa tak dikenal dalam tujuh hari terakhir. Mereka masih memegang 4,1 ribu BTC (US$360 juta) dan telah menjual total 2,3 ribu BTC,” tulis Gallic di platform X pada 23 Desember.
Setoran terbaru ini melanjutkan pola pelepasan bertahap yang telah terdeteksi sejak November. Pada 9 November lalu, Gallic melaporkan setoran 110 BTC dalam dua hari dan menilai penjualan berlangsung perlahan melalui bursa yang tidak berlabel jelas (unknown exchanges).
Namun, kendali aktual atas dana tersebut masih menjadi tanda tanya. Gallic menyoroti ketidakpastian apakah Bilyuchenko masih ditahan di Rusia atau masih memiliki akses langsung ke aset kripto tersebut, mengingat pengadilan di Moskow telah menyita sebagian besar aset lain yang terkait dengannya.
Penggunaan bursa yang tidak teridentifikasi membuat arus dana lebih sulit dibaca oleh pelaku pasar. Secara umum, setoran ke bursa mengindikasikan niat menjual, tetapi jalur eksekusi menjadi kurang transparan dibandingkan transfer ke dompet bursa besar yang dikenal publik.
Pada Oktober, Gallic bahkan mengklaim hampir 8.000 BTC yang terkait dengan kasus WEX/BTC-e berada di bawah kendali otoritas Rusia, termasuk sekitar 6.500 BTC yang sempat berpindah dompet. Ia mengaitkan kontrol tersebut dengan unit tertentu dalam aparat keamanan Rusia, merujuk pada laporan investigatif berbahasa Rusia.
Siapa Aleksey Bilyuchenko?
Aleksey Bilyuchenko adalah warga negara Rusia yang dikenal sebagai salah satu figur kunci di balik BTC-e, salah satu bursa kripto terbesar dunia pada era awal bitcoin, serta diduga terlibat dalam peretasan Mt. Gox tahun 2011—insiden yang menyebabkan hilangnya sekitar 850.000 bitcoin.
Setelah BTC-e ditutup pada 2017, Bilyuchenko dikaitkan dengan WEX, platform penerus yang kemudian juga runtuh. Namanya kerap muncul dalam investigasi internasional terkait pencucian dana kripto lintas negara.
Di Rusia, Bilyuchenko menghadapi perkara pidana terpisah terkait WEX. Pada 18 Maret 2024, Pengadilan Kota Moskow menguatkan vonis bersalah sebelumnya. Ia dinyatakan bersalah menggelapkan aset WEX senilai 3,1 miliar rubel, dan dijatuhi hukuman 3,5 tahun penjara serta denda 500.000 rubel.
Sementara di Amerika Serikat, proses hukum masih berjalan. Pada Juni 2023, Departemen Kehakiman AS (DOJ) membuka dakwaan di Distrik Selatan New York terhadap Bilyuchenko dan Aleksandr Verner atas dugaan konspirasi pencucian sekitar 647.000 BTC terkait peretasan Mt. Gox, dengan ancaman hukuman hingga 20 tahun penjara.
Selain itu, Bilyuchenko juga didakwa di Distrik Utara California atas tuduhan pencucian uang dan pengoperasian jasa keuangan tanpa izin terkait operasional BTC-e, dengan potensi hukuman maksimal 25 tahun penjara. (DK)