AI masif, UAE dan Arab Saudi tetap butuh lebih dari 1,5 juta pekerja
Sabtu, 27 Desember 2025

DUBAI – Pasar tenaga kerja di Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi diperkirakan tetap tumbuh pesat dan membutuhkan lebih dari 1,5 juta pekerja tambahan hingga 2030, meskipun penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terus meningkat.Hal ini terungkap dalam studi tenaga kerja global yang dirilis pada 2025.Seperti dikutip geo.tv, riset tersebut menunjukkan bahwa kehadiran AI tidak mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia di kawasan Teluk.Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi yang kuat, proyek pembangunan berskala besar, serta ekspansi layanan publik dan swasta justru mendorong permintaan tenaga kerja yang berkelanjutan.Di Arab Saudi, kebutuhan tenaga kerja didorong oleh program reformasi ekonomi Vision 2030 yang mencakup investasi besar di sektor konstruksi, infrastruktur, pariwisata, manufaktur, logistik, hingga pengembangan kawasan ekonomi baru.Studi itu memperkirakan, tanpa peningkatan produktivitas dari AI, Arab Saudi memerlukan sekitar 650.000 pekerja tambahan untuk menopang rencana ekspansinya.Bahkan setelah memperhitungkan otomatisasi, kerajaan tersebut masih akan menghadapi kesenjangan tenaga kerja yang signifikan dalam beberapa tahun ke depan.Sementara itu, permintaan tenaga kerja di Uni Emirat Arab diproyeksikan meningkat lebih cepat.Total jumlah tenaga kerja UEA diperkirakan tumbuh 12,1% hingga 2030, menjadikannya salah satu pasar tenaga kerja dengan pertumbuhan tercepat di antara negara-negara yang diteliti.“Peningkatan 12,1% tenaga kerja manusia ini merupakan salah satu yang tertinggi di antara pasar yang dikaji.Arab Saudi diperkirakan mencatat pertumbuhan 11,6%, jauh di atas negara-negara ekonomi besar seperti Amerika Serikat (2,1%) dan Inggris (2,8%),” demikian isi laporan tersebut.Analisis ini dilakukan oleh ServiceNow, perusahaan perangkat lunak asal Amerika Serikat, bersama Pearson, perusahaan pendidikan global berbasis di Inggris yang fokus pada pengembangan keterampilan dan penilaian tenaga kerja.Menurut laporan tersebut, fokus kuat UEA pada teknologi, AI, dan transformasi digital layanan justru diperkirakan menciptakan lapangan kerja baru, bukan menghilangkannya.Modernisasi di sektor pemerintahan dan swasta mendorong peningkatan kebutuhan tenaga kerja di bidang manufaktur, pendidikan, ritel, kesehatan, jasa keuangan, serta layanan berbasis teknologi.AI diperkirakan akan mengambil alih tugas-tugas rutin dan berulang. Namun, peran manusia tetap krusial untuk pekerjaan yang membutuhkan keahlian teknis, pengawasan, interaksi dengan pelanggan, pemecahan masalah, dan penyediaan layanan.Sektor-sektor yang diproyeksikan terus merekrut tenaga kerja di UEA dan Arab Saudi antara lain konstruksi, transportasi, logistik, kesehatan, perhotelan, ritel, pendidikan, energi, jasa keuangan, dan teknologi informasi.Temuan ini juga memiliki arti penting bagi pekerja migran, termasuk dari Pakistan. Jutaan warga Pakistan saat ini bekerja di UEA dan Arab Saudi, terutama di sektor konstruksi, transportasi, ritel, kesehatan, dan pekerjaan teknis.Studi tersebut menegaskan bahwa peluang kerja bagi tenaga asing masih terbuka luas, khususnya bagi mereka yang memiliki keterampilan teknis, keahlian vokasional, literasi digital, serta pengalaman di sektor jasa.Kesimpulannya, AI akan meningkatkan produktivitas, tetapi tidak sepenuhnya mampu menutup kekurangan tenaga kerja yang muncul akibat pesatnya pertumbuhan ekonomi di kawasan Teluk. (DK)