Perak berpeluang salip NVIDIA jadi aset bernilai terbesar kedua dunia
Minggu, 28 Desember 2025

JAKARTA – Perak diproyeksikan menyalip NVIDIA Corporation dan menjadi aset dengan valuasi terbesar kedua di dunia setelah emas, seiring lonjakan harga dan kapitalisasi pasar yang kian mendekat.
Saat ini, kapitalisasi pasar perak mencapai US$4,220 triliun, hanya terpaut sekitar 8,1% dari NVIDIA yang berada di level US$4,592 triliun, menurut data CompaniesMarketCap.com. Sementara itu, emas masih kokoh di posisi puncak dengan kapitalisasi US$31,598 triliun per Jumat (26 Desember 2025).
Harga spot perak di bursa Comex telah menembus US$75 per ons (troi ons) dan terus melesat ke level tertinggi sepanjang masa. Di pasar domestik India, harga berjangka perak di Multi Commodity Exchange (MCX) menyentuh rekor Rs 2,33,115 per kilogram pada sesi perdagangan intraday.
Seperti dikutip dari Moneycontrol.com, di sisi lain, saham NVIDIA tercatat di US$188,61 pada pukul 14.54 IST, turun 0,32% dalam 24 jam terakhir.
“Melihat pergerakan harga saat ini, perak berpeluang menjadi aset paling bernilai kedua di dunia, melampaui NVIDIA,” ujar Surendra Mehta, Sekretaris Nasional India Bullion and Jewellers Association (IBJA).
Mehta menambahkan, selisih harga perak antara Comex dan Shanghai yang kini mencapai hampir US$7, jauh di atas selisih normal di bawah US$1, menunjukkan terganggunya sistem arbitrase global serta mekanisme penemuan harga (price discovery).
“Harga perak masih berpotensi mengejutkan pasar, karena logam putih ini berpindah dari gudang LBMA (London Bullion Market Association) ke China demi harga yang lebih menarik,” katanya.
Dalam setahun terakhir, harga perak di MCX melonjak 153,14%, dari Rs 91.600 pada 26 Desember 2024 menjadi Rs 2,31.879 pada 26 Desember 2025. Kenaikan ini jauh melampaui emas yang mencatatkan imbal hasil 79,75% pada periode yang sama, dari Rs 77.460 menjadi Rs 1,39.233 per 10 gram emas 24 karat.
Reli perak didorong oleh kombinasi pemangkasan suku bunga global, meningkatnya likuiditas, pelemahan dolar AS, serta permintaan industri yang kuat secara struktural.
Kenaikan terbaru juga dipicu ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve AS, dengan pasar memperkirakan peluang 84,5% untuk penurunan suku bunga ke kisaran 350–375 basis poin pada pertemuan FOMC 27–28 Januari 2026.
Faktor geopolitik turut berperan, termasuk konflik Israel–Iran serta meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela.
“Ketatnya pasokan logam membuat harga tetap tinggi. Bank-bank bullion besar terpaksa menutup posisi perak kertas dengan perak fisik yang ketersediaannya sangat terbatas, sehingga stok gudang Comex ikut terkuras,” kata Manav Modi, Analis Komoditas Motilal Oswal Financial Services Ltd.
Modi juga mengungkapkan bahwa China bersiap menerapkan pembatasan ekspor perak mulai 1 Januari 2026. Meski tanpa sanksi resmi, kebijakan ini berpotensi memperparah hambatan pasokan global dan menambah tekanan kenaikan harga. (DK)