Long March-8A China luncurkan satelit internet, tantang Starlink?

Minggu, 28 Desember 2025

image

JAKARTA – China kembali mencatatkan keberhasilan dalam program antariksa setelah sukses meluncurkan roket pembawa Long March-8A pada Jumat (26/12) pagi waktu setempat. Peluncuran ini bertujuan mengirimkan sekelompok satelit internet orbit rendah untuk memperkuat infrastruktur konektivitas berbasis ruang angkasa negara tersebut.

Seperti dilansir Global Times (26/12), roket Long March-8A lepas landas pada pukul 07.26 waktu Beijing dari Situs Peluncuran Pesawat Ruang Angkasa Komersial Hainan, di provinsi kepulauan selatan China.

Otoritas antariksa China mengonfirmasi bahwa peluncuran berlangsung lancar dan seluruh muatan berhasil ditempatkan ke orbit yang telah ditentukan. Satelit-satelit ini merupakan grup ke-17 dari konstelasi satelit internet orbit rendah China, yang dirancang untuk menyediakan layanan komunikasi dan internet berkecepatan tinggi dengan latensi rendah.

Peluncuran tersebut menambah daftar panjang proyek konstelasi satelit China yang dalam beberapa tahun terakhir kerap dibandingkan dengan Starlink, jaringan satelit orbit rendah milik perusahaan swasta AS, SpaceX. Meski demikian, otoritas China belum secara resmi menyebut konstelasi ini sebagai pesaing langsung Starlink.

Sejumlah analis menilai pengembangan satelit internet orbit rendah China lebih diarahkan untuk memperkuat kedaulatan digital, keamanan komunikasi, serta cakupan konektivitas nasional dan regional, meskipun dalam jangka panjang berpotensi menjadi alternatif bagi layanan satelit komersial global yang saat ini didominasi Starlink.

Global Times tidak menyebutkan nama satelit yang dibawa dalam peluncuran tersebut.

Namun, pada 30 Juli 2025, media teknologi internasional Ars Technica melaporkan bahwa roket Long March-8A sebelumnya digunakan untuk meluncurkan satelit yang dikaitkan dengan jaringan Guowang.

Pejabat pertahanan Amerika Serikat, menurut arstechnica.com, sejak lama mengkhawatirkan bahwa jaringan satelit Guowang milik China dapat memberi militer China konektivitas luas dan berkelanjutan, serupa dengan yang dinikmati pasukan AS melalui jaringan Starlink milik SpaceX.

Guowang dinilai lebih dari sekadar alternatif domestik China untuk layanan broadband konsumen ala Starlink. Meski China mengungkapkan sangat sedikit informasi, sejumlah indikasi menunjukkan bahwa konstelasi ini berpotensi memberikan keunggulan taktis militer bagi China dalam kemungkinan konflik di kawasan Pasifik Barat.

Megakonstelasi Guowang dikelola oleh perusahaan tertutup China SatNet, yang dibentuk pemerintah China pada 2021. Hingga kini, perusahaan tersebut hampir tidak merilis informasi publik, tidak memiliki situs web, serta belum mengungkap kemampuan teknis satelit maupun rencana pemasaran komersial.

Selain Guowang, China juga tengah mengembangkan konstelasi satelit lain bernama Qianfan, yang dinilai lebih mendekati model komersial Starlink. Satelit Qianfan berbentuk pipih, memudahkan integrasi dalam peluncuran, dan peluncuran tahap awal dari hingga 1.300 satelit broadband telah dimulai sejak tahun lalu.

Berbeda dengan Starlink, jaringan Guowang menggunakan satelit dari berbagai produsen dan diluncurkan dengan beragam jenis roket. Arsitekturnya dinilai lebih menyerupai sistem satelit militer AS seperti Starshield, serta jaringan relai data dan pelacak rudal yang dikembangkan Space Development Agency.

Guowang juga memiliki kemiripan dengan konsep MILNET militer AS, yakni jaringan mesh hibrida yang dirancang untuk mendukung berbagai kebutuhan operasional militer.

Dalam beberapa pekan terakhir, laju peluncuran satelit Guowang mendekati Starlink. Sejak 27 Juli, China telah meluncurkan lima kelompok satelit Guowang, sementara SpaceX meluncurkan enam misi Starlink pada periode yang sama.

Satu peluncuran roket Falcon 9 mampu membawa hingga 28 satelit Starlink, sementara roket China sejauh ini mengangkut lima hingga 10 satelit Guowang ke orbit yang lebih tinggi. Sejak Desember lalu, China telah menempatkan 72 satelit Guowang di orbit, masih merupakan sebagian kecil dari rencana 12.992 satelit yang diajukan ke International Telecommunication Union (ITU).

Konstelasi Guowang mencakup lapisan orbit pada ketinggian 500–600 kilometer dan sekitar 1.145 kilometer. Hingga kini, satelit yang telah diluncurkan diarahkan ke orbit yang lebih tinggi, yang membatasi jumlah muatan per peluncuran, namun memungkinkan cakupan global dengan jumlah satelit yang lebih sedikit. (SF/MT)