Masih ada pipeline Rp5 triliun, Citi Indonesia sasar kredit naik 7-9%

Kamis, 20 Agustus 2026

image

JAKARTA – Citi Indonesia membukukan laba bersih merosot hingga 25,45% secara tahunan pada akhir semester I 2026, tertekan realisasi penjualan aset keuangan, serta pendapatan bunga bersih yang merosot 5,06%.

Berdasarkan laporan keuangan terbaru, Citi Indonesia mencatatkan pendapatan bunga bersih sebesar Rp2,02 triliun, dan laba bersih mencapai Rp993,89 miliar.

CEO Citi Indonesia Batara Sianturi menegaskan bahwa arus pendapatan Citi Indonesia masih tampak kuat, namun kondisi market yang tidak kondusif berdampak negatif pada kinerja aset keuangan tersebut.

“Kalau melihat penghasilan, underlying dari top line kami cukup kuat … Jadi itu [penurunan laba] karena volatilitas pasar yang berdampak pada aset keuangan tersebut,” jelasnya dalam sesi Konferensi Pers Pemaparan Kinerja Citi Indonesia Semester I 2026, Kamis (20/8).

DPK, Kredit, dan sektor data centre

Di sisi lain, kinerja intermediasi Citi Indonesia bertumbuh subur, dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) per Juni 2026 melonjak 23,29% menjadi Rp72,6 triliun.

Ini didukung pertumbuhan giro (current account) hingga 36,54% menjadi Rp60,4 triliun, yang kemudian mendorong rasio CASA naik dari 75,16% menjadi 83,23%.

Menurut Batara, derasnya aliran masuk ke DPK bank merupakan salah satu keuntungan dari status bank multinasional Citi Indonesia. “Sekitar 80-90% DPK kami itu datangnya dari multinational business,” ungkapnya.

Menurutnya, aliran dana asing yang masuk dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Eropa, hingga berbagai koridor Asia, kini semakin deras, terutama didukung minat investasi data centre.

“Aliran investasi itu cukup deras, ya. Banyak investasi untuk data centre, sehingga banyak masuk ke DPK,” imbuhnya lebih lanjut.

Batara mengaku Citi Indonesia menyambut hangat antusiasme investasi data centre di Indonesia, dan menantikan berbagai peluang bisnis yang akan masuk melalui sektor tersebut.

Sejalan dengan ini, ia menegaskan bahwa telco, atau infrastruktur telekomunikasi, menjadi sektor prioritas utama bagi penyaluran kredit Citi Indonesia di paruh kedua tahun 2026 ini.

Sektor tersebut, disusul sektor keuangan, kemudian pertambangan dan konstruksi, serta retail dan bahan kimia, termasuk di dalam pipeline kredit Citi Indonesia untuk semester II 2026 sebesar Rp5 triliun.

“Jadi untuk semester kedua ini, our pipeline is very, very strong, dan kita harapkan ini akan juga mendongkrak performance untuk semester yang kedua,” ujar Batara.

Hingga akhir Juni 2026, meski DPK meroket, pertumbuhan kredit Citi Indonesia masih tertahan di level 8,05%, dan menyentuh Rp29,9 triliun. Namun, kinerja ini membaik dari penurunan tipis kredit 2,21% per kuartal I 2026.

Citi Indonesia sendiri mengaku telah merevisi target pertumbuhan kredit dan DPK untuk tahun buku 2026 menjadi high single-digit, atau di kisaran 7-9%, di tengah volatilitas ekonomi global dan domestik. (ZH)